Jakarta – Bank Syariah Indonesia kembali menunjukkan kinerja positif pada Triwulan I 2026 dengan mencatat pertumbuhan tabungan tertinggi di industri perbankan nasional. Capaian tersebut didorong meningkatnya minat masyarakat terhadap layanan perbankan syariah, khususnya Tabungan Haji dan bisnis emas yang menjadi kekuatan utama perseroan.
Hingga Maret 2026, jumlah nasabah Tabungan Haji BSI telah mencapai 7,25 juta rekening. Menariknya, sekitar 1,2 juta di antaranya berasal dari generasi muda, yakni kalangan milenial dan Gen-Z. Kondisi ini menunjukkan kesadaran generasi muda dalam mempersiapkan ibadah haji sejak dini semakin meningkat.
Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo mengatakan bahwa tabungan saat ini menjadi salah satu motor utama pertumbuhan perusahaan, terutama dari sektor Tabungan Haji.
“Tabungan saat ini menjadi engine growth BSI termasuk dari Tabungan Haji,” ujar Anggoro dalam paparan kinerja Perseroan Triwulan I 2026.
Menurutnya, BSI terus memperkuat layanan haji melalui berbagai inovasi digital dan kemudahan akses bagi masyarakat. Salah satu strategi yang dilakukan yakni mempermudah pembukaan rekening melalui aplikasi BYOND by BSI, sehingga calon jamaah dapat melakukan pendaftaran secara praktis dan cepat.
Data BSI menunjukkan antusiasme masyarakat Indonesia untuk berhaji terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023 jumlah pendaftar haji nasional tercatat sebanyak 286,4 ribu orang, kemudian meningkat menjadi 422,3 ribu pada 2025. Dari jumlah tersebut, sebanyak 226,4 ribu pendaftar melakukan registrasi melalui BSI.
Peningkatan tersebut membuat pangsa pasar atau market share pendaftaran haji nasional melalui BSI naik dari 49,5 persen pada 2023 menjadi 53,6 persen pada 2025. Bahkan pada fase keberangkatan haji tahun 2026, sekitar 83,5 persen jamaah berasal dari pendaftar melalui BSI.
Pertumbuhan jumlah nasabah juga berdampak signifikan terhadap peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK). Hingga Triwulan I 2026, DPK BSI tumbuh 18 persen secara tahunan menjadi Rp376,8 triliun. Pertumbuhan terbesar berasal dari dana murah atau CASA.
Segmen giro tercatat tumbuh 24,17 persen menjadi Rp71,7 triliun, sementara tabungan meningkat 20,18 persen menjadi Rp164,5 triliun. Secara keseluruhan, total CASA BSI mencapai Rp236,2 triliun atau tumbuh 21,36 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Kinerja positif tersebut turut mendorong total aset BSI naik menjadi Rp460,1 triliun per Maret 2026. Dengan capaian itu, BSI kini masuk dalam jajaran lima besar bank nasional setelah resmi menjadi bank persero pada Januari 2026.
Selain fokus pada layanan syariah, BSI juga memperkuat bisnis emas yang kini menjadi salah satu sumber pendapatan utama perusahaan. Sebagai satu-satunya bank di Indonesia yang memiliki lisensi bank emas, BSI dinilai berhasil memperluas inklusi keuangan, termasuk menarik minat nasabah non-Muslim yang kini mencapai 12 persen dari total nasabah.
Direktur Finance and Strategy BSI, Ade Cahyo Nugroho mengatakan strategi dual licence sebagai bank syariah dan bank emas terbukti memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan pendapatan berbasis biaya atau Fee Based Income (FBI).
Pada Triwulan I 2026, FBI BSI tercatat mencapai Rp2,09 triliun atau tumbuh 22,98 persen secara tahunan. Bisnis emas menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp705 miliar atau tumbuh 125 persen dibanding periode sebelumnya.
Selain bisnis emas, kontribusi FBI juga berasal dari treasury dan layanan e-channel yang terus berkembang seiring meningkatnya transaksi digital masyarakat.
Dari sisi pembiayaan, BSI juga mencatat pertumbuhan positif sebesar 14,39 persen secara tahunan menjadi Rp329 triliun. Sebagian besar pembiayaan disalurkan ke sektor konsumer dan ritel dengan porsi mencapai 72,37 persen.
Meski pembiayaan tumbuh signifikan, kualitas pembiayaan tetap terjaga dengan rasio Non-Performing Financing (NPF) gross berada di level 1,8 persen, membaik dibanding periode sebelumnya sebesar 1,88 persen. Sementara NPF nett berada di kisaran 0,38 persen.
BSI juga terus memperkuat kontribusinya terhadap program pemerintah, termasuk penyaluran pembiayaan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), Kredit Usaha Rakyat (KUR), hingga pembiayaan rumah subsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan pelaku UMKM.
Dengan capaian tersebut, BSI optimistis dapat mempertahankan pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan sekaligus memperkuat posisi sebagai bank syariah terbesar di Indonesia.








